LEBAK — Masyarakat Adat Baduy bersama para pegiat budaya menggelar pertunjukan sekaligus sarasehan seni Dogdog Lojor di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Langkah pelestarian ini diselenggarakan secara berkala di perkampungan adat guna memastikan alat musik tabuh tradisional tersebut tetap lestari di kalangan generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi, khususnya dalam mengiringi siklus ritual tanam dan panen padi masyarakat agraris.
Kesenian Dogdog Lojor merupakan warisan leluhur yang sarat akan nilai spiritual dan kebersamaan. Instrumen perkusi berbentuk silinder kayu memanjang dengan membran kulit hewan ini biasanya dimainkan secara serempak oleh para penabuh dengan teknik ritmis yang saling mengisi, kerap dipadukan dengan alunan instrumen angklung buhun. Keterpaduan ritme tabuhan tersebut bukan semata hiburan audio-visual, melainkan media pengucapan syukur kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi.
Pegiat seni budaya Banten, Ki Asep Jayakarta, menegaskan bahwa regenerasi pemukul Dogdog Lojor menjadi kunci utama pertahanan eksistensi seni tradisional ini. "Dogdog Lojor bukan sekadar kayu dan kulit yang dipukul, melainkan ada filosofi hidup bersahaja dan doa kemakmuran di dalamnya. Kami berupaya agar anak-anak muda, khususnya di wilayah Baduy Luar dan sekitarnya, tidak kehilangan kebanggaan terhadap identitas budayanya sendiri," ujar Asep di sela-sela kegiatan pertunjukan.
Melalui penguatan tradisi secara mandiri oleh masyarakat adat dan dukungan pemerhati budaya, Dogdog Lojor diharapkan dapat terus bergema melintasi zaman tanpa kehilangan kesakralannya. Upaya konsisten ini sekaligus membuktikan bahwa kearifan lokal Baduy memiliki daya tahan yang kokoh dalam merespons perubahan zaman yang kian dinamis.
Indonesia
English
Diskusi & Komentar
0 komentar
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!